TERBITJABAR.COM | INDRAMAYU — Menjelang perayaan Hari Jadi Kabupaten Indramayu Ke-499, yang sebentar lagi dirayakan, kini menjadi sorotan dan masukan dari berbagai elemen masyarakat termasuk tokoh budaya,(1/10/2026).
Salah satu isu yang paling disoroti adalah konsep acara keagamaan dalam rangkaian hari jadi yang dinilai monoton dan minim ruang bagi potensi di Indramayu sendiri, baik dari kalangan kiai muda, pendakwah asli daerah, tokoh budaya hingga seniman budaya yang punya karya bagus.
Kritik ini mencuat menyusul tradisi perayaan yang hampir setiap tahunnya selalu menghadirkan agenda seremonial beragam, seperti “Indramayu Bersholawat” dengan mendatangkan figur tertentu hampir mengisi di perayaan hari jadi kabupaten Indramayu sampai hari ini, tanpa memberikan kesempatan panggung yang sama bagi tokoh agama dan budaya asal Indramayu sendiri.
Sekretaris Jenderal Perjuangan Wali Songo Indonesia (PWI-LS) Jawa Barat, H. Rokhman, memberikan kritik terbuka terkait konsep perayaan Hari Jadi Kabupaten Indramayu yang dinilai kurang variatif.
Menurutnya, Indramayu memiliki banyak tokoh-tokoh muda, kiai muda, pendakwah, hingga penceramah berbakat asli putra daerah yang sudah memiliki jam terbang tinggi dan layak diberikan ruang oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indramayu, tapi sayangnya sampai sekarang sudah berlangganan dengan salah satu sajah dari luar Indramayu.
”Bukan berarti kami tidak setuju dengan kegiatan bersholawat, tetapi kita punya banyak pendakwah lokal dari tanah Indramayu yang juga mampu memberikan warna dan nuansa khas dalam perayaan hari jadi,” ujar H. Rokhman dalam keterangannya pada rabu (30/9/2026).
Pihaknya, yang bernaung di bawah simbol-simbol budaya dan perjuangan Wali Songo, menyayangkan jika agenda besar kabupaten seolah-olah dibatasi hanya pada satu corak warna acara rutin tahunan.
Padahal, Indramayu memiliki kekayaan budaya dan trah sejarah panjang yang seharusnya diperkenalkan secara luas kepada generasi muda.
Pandangan senada juga diungkapkan oleh seorang tokoh budaya sekaligus mantan Dosen Filsafat Pengantar Ilmu Hukum Universitas Wiralodra Kabupaten Indramayu.
Ia menilai bahwa sejak pertama kali disahkan pada masa kepemimpinan Bupati Djahari Aksam,S.H, lalu kemudian arah pengembangan kebudayaan di Indramayu masih memerlukan perhatian dan pencerahan serius dari pemerintah daerah (Pemkab kabupaten Indramayu).
“Kenapa acara Indramayu Bersholawat harus diisi oleh Habib Syech dengan Hadroh dari Kudus, Kenapa bukan pelantun sholawat dan Hadroh asli dari Indramayu saja, Toh pelantun sholawat dan iringan Hadroh dari Indramayu banyak yang bagus” tegas H.Urip pada awak media.
Hingga saat ini, Indramayu dinilai masih minim data sejarawan definitif serta banyak peninggalan sejarah lokal yang belum tergali dan terkonfirmasi oleh narasumber yang valid.
Momen Hari Jadi Kabupaten Indramayu seharusnya dimanfaatkan secara maksimal untuk memperkenalkan kebudayaan lokal lewat kirab budaya dan dialog kultural, bukan sekadar menggelar acara seremonial tahunan yang berulang dan dalam satu tema “Indramayu Bersholawat”.
Raih Hibah PKM 2026, Dosen UDM Indramayu Sulap Terasi Junti Jadi Produk Modern
Pemerintah daerah didorong untuk lebih cermat menimbang dan memilih muatan budaya sebagai pilar utama agar perayaan tidak terkesan minim substansi budaya dan monoton.
Perayaan Hari Jadi Kabupaten Indramayu dipandang bukan hanya sebagai rutinitas acara seremonial belaka.
Lebih dari itu, momentum Hari Jadi Indramayu ini harus menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar lebih mengenal, mencintai, dan bangga terhadap akar budaya serta sejarah lokal Kabupaten Indramayu.
Dengan melibatkan para kiai, ulama besar tingkat nasional asal daerah, serta para budayawan lokal, perayaan Hari Jadi Indramayu diharapkan mampu menjelma menjadi etalase kebudayaan yang kaya makna, edukatif, dan tidak membosankan.
Reporter: Taufik







