TERBITJABAR.COM | JAKARTA – Pemerintah Indonesia mulai meningkatkan kewaspadaan tingkat tinggi menyusul meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, jalur perdagangan energi paling vital di dunia.
Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor minyak mentah, gangguan pada jalur ini bukan sekadar isu internasional, melainkan ancaman langsung terhadap ketahanan energi dan stabilitas ekonomi nasional.
Jalur Nadi yang Terancam.
Selat Hormuz, sebuah celah sempit antara Teluk Oman dan Teluk Persia, merupakan “urat nadi” bagi setidaknya 21 juta barel minyak per hari.
Bagi Indonesia, posisi selat ini sangat krusial karena sebagian besar pasokan minyak mentah dan LPG dari negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar harus melewati jalur ini sebelum sampai ke tangki-tangki Pertamina.
Efek Domino terhadap APBN dan Rakyat.
Pengamat ekonomi memperingatkan bahwa jika terjadi penutupan atau gangguan keamanan di selat tersebut, harga minyak mentah dunia diprediksi bisa melonjak hingga melampaui angka $100 per barel, Dampak bagi Indonesia dipastikan akan terasa secara instan melalui tiga jalur utama.
Bengkaknya Subsidi BBM.
Kenaikan harga minyak global secara otomatis akan memperlebar celah antara harga keekonomian dan harga jual BBM subsidi (Pertalite dan Solar).
Hal ini memaksa pemerintah untuk menambah alokasi subsidi dari APBN atau mengambil langkah pahit dengan menaikkan harga BBM di tingkat konsumen.
Inflasi Logistik, Kenaikan biaya energi akan memicu kenaikan ongkos angkut barang.
“Setiap kenaikan harga BBM akan diikuti oleh kenaikan harga bahan pokok dalam waktu kurang dari satu bulan,” lapor badan riset ekonomi domestik.
Ketahanan Pangan, Selat Hormuz juga merupakan jalur distribusi pupuk dan gandum. Gangguan pengiriman bahan baku pupuk dapat mengancam musim tanam dan produktivitas petani nasional.
Langkah Strategis Pemerintah
Menanggapi situasi ini, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Pertamina mulai menyiapkan skema darurat.
Langkah-langkah tersebut meliputi,
Diversifikasi Sumber Impor, Mencari pasokan alternatif dari wilayah Afrika atau Amerika Latin yang tidak melewati Selat Hormuz.
Optimalisasi Cadangan Penyangga: Memastikan stok BBM nasional tetap berada di level aman untuk setidaknya 30 hari ke depan.
Transisi Energi, Mempercepat penggunaan energi baru terbarukan (EBT) guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor.
Sumber Data Referensi:
U.S. Energy Information Administration (EIA) regarding Strait of Hormuz oil flow.














