TERBITJABAR.COM | INDRAMAYU – Ratusan massa yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Pesisir Indramayu (KOMPI) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Indramayu pada Kamis (30/4/2026).
Aksi ini merupakan bentuk protes keras terhadap kebijakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indramayu yang dinilai abai terhadap nasib para petani tambak.
Menuntut Pembatalan Revitalisasi Tambak
Dalam tuntutannya, massa mendesak agar proyek Revitalisasi Tambak di wilayah Kabupaten Indramayu segera dihentikan atau dipindahkan ke daerah lain.
Kebijakan tersebut dianggap sangat merugikan masyarakat pesisir yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor pertambakan tradisional.
“Pak Bupati, tolong proyek pemerintah tentang revitalisasi tambak segera dipindahkan! Jangan sampai ada di Kabupaten Indramayu,” tegas salah satu koordinator aksi dalam orasinya di atas mobil komando.
Kekecewaan Terhadap Bupati Lucky Hakim
Suasana sempat memanas lantaran Bupati Indramayu, Lucky Hakim, tidak kunjung menemui massa yang sudah menunggu sejak pagi.
Ketidakhadiran orang nomor satu di Indramayu tersebut memicu kekecewaan mendalam bagi para peserta aksi yang ingin menyampaikan aspirasi secara langsung.
Sebagai bentuk protes atas sikap bupati yang dinilai menutup diri dari dialog, massa membawa hewan biawak sebagai simbol sindiran.
Simbol ini menggambarkan penilaian mereka terhadap sikap pemerintah daerah yang dianggap “dingin” dan tidak serius dalam merespons jeritan para petani.
Respons Pemerintah Daerah
Karena Bupati tidak berada di tempat, massa akhirnya ditemui oleh Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kabupaten Indramayu, Asep Afandi. Di hadapan para pendemo, Asep berjanji akan menyampaikan seluruh poin aspirasi dan tuntutan tersebut langsung kepada Bupati.
“Kami akan sampaikan seluruh aspirasi dari kawan-kawan semua kepada Bapak Bupati terkait aksi hari ini,” ujar Asep singkat di tengah pengawalan ketat petugas keamanan.
Meski telah ditemui perwakilan pemerintah, massa menyatakan kekecewaannya karena pertemuan tersebut berakhir buntu (deadlock) tanpa keputusan konkret.
KOMPI mengancam akan kembali melakukan aksi serupa dengan massa yang lebih besar jika tuntutan mereka untuk membatalkan proyek revitalisasi tidak segera dipenuhi.
Reporter: Tim Liputan Lapangan














