Sentil Keras Pemilu 2029, Aktivis GMNI Indramayu Sebut Suksesi Politik Cuma “Ilusi”?

boniterbitjabar

Sentil Keras Pemilu 2029, GMNI Indramayu Sebut Suksesi Politik Cuma "Ilusi"?

TERBITJABAR.COM | INDRAMAYU — Menjelang Pemilihan Umum 2029, ruang publik dan lini masa media sosial (Medsos) kini mulai dibanjiri etalase sirkus politik baru.

Berbagai foto dan kemasan wajah tokoh politik sudah berseliweran, ditambah pertanyaan populer tentang sosok yang layak memimpin Indonesia ke depan untuk Indonesia.

Menanggapi fenomena tersebut, Iwan Hendrawan selaku Aktivis Alumni GMNI Kabupaten Indramayu melontarkan kritik tajam.

Menurutnya, gelombang diskursus ini terjebak dalam ilusi suksesi figur yang dangkal. Pertanyaan tentang “siapa sosok ideal” di tahun 2029 disebut sebagai bentuk pembodohan sistemis yang sengaja dipelihara untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari masalah fundamental ketatanegaraan.

“Sistem politik hasil amandemen UUD 1945 telah mengubah kontestasi kepemimpinan nasional menjadi sekadar industri kosmetik digital,” ujar Iwan, saat dikonfirmasi oleh awak media di Konfercab GMNI Kabupaten Indramayu, (25/8/2026).

Kini, Publik dipaksa berdebat pada hal-hal permukaan, sementara substansi dan cengkeraman gurita oligarki di balik layar luput dari perhatian. Siapapun figur yang kelak menduduki kursi tertinggi, dikhawatirkan akan langsung disandera oleh pialang akses dan penyandang dana di ruang gelap.

Iwan Hendrawan, Presidium Ikatan Alumni GMNI menambahkan, akar dari kemunduran kualitas kepemimpinan ini ditarik jauh ke belakang pada produk-produk amandemen UUD 1945 pasca-Reformasi 1998.

Transisi politik yang awalnya diharapkan menjadi koreksi total atas rezim Orde Baru justru melahirkan tirani pasar bebas politik di Indonesia.

Institusi pengawas dan penegak akuntabilitas publik turut mengalami degradasi moral, sementara komodifikasi produk hukum semakin memperparah keadaan.

Secara sosiologis dan tata negara, struktur mesin pemilu liberal menuntut logistik tanpa batas di mana biaya politik yang tinggi secara otomatis menutup pintu bagi calon berintegritas namun berdompet tipis.

Ironisnya, Proses seleksi alamiah ini hanya menyaring dua kategori figur, mereka yang kaya raya atau siap menjadi boneka oligarki, serta mereka yang mahir memanipulasi citra publik lewat layar digital.

​Meributkan figur calon presiden tanpa merombak sistem pemilu dan mengevaluasi kerangka konstitusi dianggap sebagai sebuah kesia-siaan.

Kedaulatan rakyat harus direbut kembali dari cengkeraman pasar bebas politik. Jika bangsa ini terus terjebak dalam ritual memajang foto tokoh tanpa membedah akar persoalan konstitusi, panggung Pemilu 2029 dikhawatirkan hanya akan menjadi kelanjutan dari sirkus politik lama, ganti nakhoda dan kemasan, namun kapal tetap karam di lautan oligarki.

Reporter: Winanto

kontributor Berita: Iwan Hendrawan IKA GMNI

Satu pemikiran pada “Sentil Keras Pemilu 2029, Aktivis GMNI Indramayu Sebut Suksesi Politik Cuma “Ilusi”?”

Tinggalkan komentar

Hot Nows ionicons-v5-c