Today

Limbah Nasi Aking Punya Nilai Jual, Omset Tambahan Buat Ibu Rumah Tangga

Salah satu pengepul yang sudah lama menggeluti usaha ini adalah Ibu Rimah (60), warga Blok Karang menyan, Desa Tamansari
Salah satu pengepul yang sudah lama menggeluti usaha ini adalah Ibu Rimah (60), warga Blok Karang menyan, Desa Tamansari

TERBITJABAR.COM | ​INDRAMAYU – Siapa sangka limbah nasi sisa yang kerap dianggap tidak berguna ternyata memiliki nilai ekonomi yang cukup menjanjikan.

Di Desa Tamansari, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, nasi sisa atau yang lebih dikenal dengan sebutan Nasi Aking menjadi komoditas bisnis untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak dan bahan makanan khas daerah.

Salah satu pengepul yang sudah lama menggeluti usaha ini adalah Ibu Rimah (60), warga Blok Karang menyan, Desa Tamansari.

Ia memanfaatkan sisa-sisa nasi yang tidak terpakai untuk dikeringkan dan dijual kembali.
​Proses Pengolahan yang Higienis.

Ibu Rimah menjelaskan bahwa bahan baku nasi tersebut ia dapatkan dari tetangga sekitar maupun dari sisa acara hajatan warga.

Alih-alih terbuang percuma, ia mengumpulkan nasi tersebut untuk diproses ulang dengan cara dijemur hingga kering.

“Biasanya nasi didapat dari sisa orang hajatan. Nasi itu kemudian dicuci bersih terlebih dahulu, lalu dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering,” ujar Ibu Rimah saat ditemui pada Senin (5/1/2026).

Harga Jual dan Pangsa Pasar
​Setelah kering, nasi tersebut dikumpulkan hingga mencapai berat satu karung atau lebih sebelum diambil oleh pihak pengulak.

Bisnis rumahan ini terbukti membantu perekonomian karena permintaan yang stabil, terutama dari para peternak.

Harga Jual: Rp3.000 hingga Rp7.000 per kilogram (tergantung kualitas dan peruntukan).
​Target Pasar: Peternak (untuk campuran pakan) dan pengrajin makanan khas daerah.

“Nasi kering ini saya jual kepada pengulak yang biasanya punya ternak atau untuk bahan makanan khas daerah Indramayu,” tambahnya.

Bisnis rumahan ini, menunjukkan bahwa pengelolaan limbah rumah tangga yang tepat, seperti nasi aking, tidak hanya membantu mengurangi Nasi yang terbuang, tetapi juga mampu menjadi mata pencaharian yang berkelanjutan bagi masyarakat pedesaan.

Related Post

Tinggalkan komentar