Today

Lentera Ajaib di Kampung Terang Bulan

sebuah desa yang terletak di kaki gunung biru, ada sebuah tempat bernama Kampung Terang Bulan. Penduduk di sana
sebuah desa yang terletak di kaki gunung biru, ada sebuah tempat bernama Kampung Terang Bulan. Penduduk di sana

TERBITJABAR.COM | CERPEN – Di sebuah desa yang terletak di kaki gunung biru, ada sebuah tempat bernama Kampung Terang Bulan. Penduduk di sana sangat ramah, dan setiap kali Bulan Ramadan tiba, kampung itu akan berbau harum pandan dan kolak pisang yang sedap.

Bani, Seorang anak laki-laki berusia 7 tahun yang sangat bersemangat. Ia baru belajar berpuasa penuh tahun ini.
​Kakek Bijak Kakek Bani yang selalu punya cerita hebat dan nasihat yang sejuk seperti air kelapa si Meong, Kucing gembul berwarna putih yang selalu menemani Bani menunggu waktu berbuka.

​Suatu pagi yang cerah, Bani terbangun untuk sahur. Matanya masih mengantuk, tapi semangatnya membara. “Kek, apakah hari ini aku bisa berpuasa sampai beduk Magrib?” tanya Bani sambil mengunyah kurmanya pelan-pelan.

Kakek Bijak tersenyum, “Tentu saja, Bani. Ramadan itu bukan soal menahan lapar saja, tapi soal mengisi hati dengan kebaikan. Jika hatimu penuh kebaikan, rasa laparmu akan terbang tertiup angin.”

Siang harinya, matahari bersinar sangat terik. Perut Bani mulai berbunyi kruyuk-kruyuk. Ia duduk di teras bersama Si Meong yang sedang tidur lelap. “Aduh, Meong, perutku rasanya seperti sedang ada konser perkusi,” keluh Bani.

​Tiba-tiba, Kakek datang membawa sebuah Lentera Kertas berwarna kuning keemasan. “Bani, ayo kita hias lentera ini. Setiap kali kamu melakukan satu kebaikan hari ini, kita akan menyalakan satu cahaya kecil di dalamnya.”

Bani pun mulai bergerak. Meski lemas, ia membantu Ibu merapikan meja makan. Klik! Satu cahaya kecil muncul di lentera. Kemudian, ia melihat tetangganya, Nek Sumi, sedang kesulitan membawa kayu bakar.

Bani segera berlari membantu, Klik! Cahaya kedua menyala
​Tak terasa, Sore hari pun tiba. Semburat warna jingga menghiasi langit. Bani sibuk menghias lenteranya sampai ia lupa bahwa ia sedang haus. Saat beduk Magrib bertalu-talu dug.. dug.. dug! Lentera milik Bani sudah bersinar sangat terang.

“Lihat, Kek! Lenteranya cantik sekali!” seru Bani gembira sambil meminum segelas air putih yang segar.
​Kakek memegang bahu Bani, “Itulah cahaya Ramadan, Bani. Saat kamu sibuk menolong orang lain dan bersabar, rasa laparmu kalah oleh kebahagiaan di hatimu. Itulah keajaiban puasa.”

​Malam itu, Kampung Terang Bulan dihiasi ribuan lentera. Tapi bagi Bani, lentera yang paling terang adalah yang ada di dalam dadanya, karena ia tahu bahwa ia telah berhasil melewati hari dengan penuh cinta.

Berpuasa bukan hanya tentang menahan diri dari makanan, tetapi tentang memperbanyak perbuatan baik yang akan menerangi hati kita seperti cahaya lentera.

Related Post

Tinggalkan komentar