Ekonomi

Kue Tradisional Mulai Tersingkir oleh Gempuran Makanan Siap Saji

Jajanan kue tempo dulu, warung pojok ibu Dasiri (Foto: Boni)

Kue Tradisional Mulai Tersingkir oleh Gempuran Makanan Siap Saji
Kue Tradisional Mulai Tersingkir oleh Gempuran Makanan Siap Saji

TERBITJABAR.COM | INDRAMAYU — Di tengah pesatnya perkembangan era modern dan serbuan makanan siap saji (fast food), keberadaan makanan serta jajanan tradisional khas Nusantara kini semakin terpinggirkan.

Kudapan tempo dulu yang sarat akan cita rasa autentik dan nilai nostalgia perlahan mulai kehilangan tempat di hati masyarakat, terutama generasi muda yang lebih melirik makanan instan praktis dan kekinian.

Berdasarkan pantauan di lapangan, warung-warung kecil di perkampungan pedesaan yang dulunya menjadi surga bagi aneka kue tradisional kini tampak berjuang keras untuk bertahan hidup.

Warung kelontong tradisional yang menjajakan bermacam-macam jajanan pasar terbungkus rapi berdampingan dengan produk makanan kemasan pabrikan modern.

​Padahal, jajanan pasar tradisional bukan sekadar pengganjal perut. Di balik tampilannya yang sederhana, kue tradisional ini menyimpan banyak sejarah, filosofi, serta kekayaan kuliner lokal yang diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang bangsa Indonesia.

Mulai dari kue basah bertekstur lembut hingga camilan gurih khas pedesaan, semuanya menyuguhkan kehangatan dan kenangan masa kecil yang sulit ditemukan pada makanan cepat saji masa kini.

Namun, pergeseran gaya hidup masyarakat modern membawa tantangan tersendiri. Kepraktisan dan tren makanan instan membuat anak-anak muda kian jarang mencicipi kelezatan kuliner lokal warisan leluhur.

Jika tidak mendapat perhatian dan dukungan dari berbagai pihak, bukan tidak mungkin ragam jajanan pasar ini hanya tinggal nama.

Pelestarian kuliner tradisional tentu membutuhkan peran aktif dari semua kalangan. Membeli dan menikmati jajanan pasar di warung-warung kecil tidak hanya sekadar bernostalgia dengan rasa masa lalu, tetapi juga menjadi wujud nyata dalam membantu perekonomian pedagang kecil sekaligus menyelamatkan warisan budaya kuliner Nusantara dari makanan kue tradisional.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *