Terbit Daerah

Simak kisah perjuangan perajin kukusan bambu di Desa Rambatan Kulon, Indramayu.

Cinta dengan Nenek sebagai perajin kukusan di blok Ningkong.

Diperbarui 14 Juli 2026

Di tengah gempuran alat dapur modern berbahan stainless steel atau plastik, kerajinan tradisional kukusan bambu tetap bertahan
Di tengah gempuran alat dapur modern berbahan stainless steel atau plastik, kerajinan tradisional kukusan bambu tetap bertahan

TERBITJABAR.COM | INDRAMAYU – Di tengah gempuran alat dapur modern berbahan stainless steel atau plastik, kerajinan tradisional kukusan bambu tetap bertahan di Desa Rambatan Kulon, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu.

Bagi warga setempat, alat penanak nasi tradisional ini bukan digunakan untuk perkakas dapur sajah, melainkan sebagai sumber penghasilan yang menggerakkan roda ekonomi rumah tangga.

Pada Selasa (14/7/2026), tim redaksi berkesempatan menilik langsung aktivitas para perajin bambu di wilayah Blok Ningkong, Desa Rambatan Kulon.

Di tangan mereka, potongan bambu sederhana disulap menjadi alat rumah tangga bernilai guna tinggi.
​Keahlian Tangan yang Bernilai Ekonomis
​Cinta, salah seorang perajin kukusan di desa tersebut, menceritakan proses panjang di balik satu unit kukusan siap pakai.

“Sebelum menjadi kukusan, bambu harus dipotong dan dirapikan terlebih dahulu. Setelah itu, bambu dibelah tipis-tipis dan dianyam hingga membentuk kerucut bakal kukusan,” ujarnya saat ditemui di lokasi.

BACA JUGA :

Jasa Sol Sepatu di Pasar Baru Indramayu Masih Jadi Primadona Masyarakat

Dalam satu hari, Cinta dan Neneknya mampu menyelesaikan sekitar 1 hingga 3 kukusan. Produk buatan warga ini tergolong sangat terjangkau, dibanderol mulai dari Rp5.000 hingga Rp10.000 per unit, tergantung pada kualitas bahan baku bambu yang digunakan.

Meskipun margin keuntungannya tipis, bagi para ibu di Blok Ningkong, kegiatan ini menjadi opsi strategis untuk menambah penghasilan keluarga di sela-sela aktivitas rumah tangga.

Kukusan bambu memang dikenal sebagai alat masak andalan untuk menanak nasi secara tradisional. Aroma nasi yang dimasak dengan kukusan bambu dianggap memiliki cita rasa khas yang tidak bisa digantikan oleh rice cooker modern.

Namun, uniknya, permintaan kukusan bambu sering kali meningkat saat memasuki bulan Agustus. Selain sebagai alat masak, kukusan ini kerap dicari untuk digunakan sebagai properti permainan tradisional dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan RI.

“Harganya yang murah namun fungsinya vital, membuat kukusan tetap dicari oleh ibu-ibu rumah tangga, baik untuk keperluan memasak maupun untuk perlombaan nanti di bulan Agustus,” tambah salah satu warga.
​
​Meski memiliki potensi ekonomi, keberlangsungan kerajinan ini menghadapi tantangan regenerasi. Ibu Liya, yang merupakan generasi kedua perajin kukusan, mengungkapkan realita di lapangan.

“Saya pribadi bisa membuat kukusan. Namun, untuk menjadikannya sebagai mata pencaharian utama atau tambahan, tantangannya cukup besar. Sekarang, saya lebih memilih pekerjaan lain yang dirasa lebih stabil,” ungkap Ibu Liya.

Kisah Ibu Liya menjadi cerminan bahwa kerajinan tangan tradisional seperti kukusan bambu memerlukan perhatian khusus agar tidak hilang ditelan zaman.

Meski sebagian ibu-ibu di Rambatan Kulon masih menjadikan ini sebagai tumpuan ekonomi, dukungan dari masyarakat untuk terus menggunakan produk lokal sangat diharapkan.

​Keberadaan perajin di Desa Rambatan Kulon ini menjadi bukti nyata bahwa UMKM lokal di Kabupaten Indramayu memiliki daya tahan kuat dan terus berupaya melestarikan warisan budaya, satu anyaman bambu di setiap harinya.

Mungkin Anda Suka

7 Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *