Today

Puncak Musim Hujan Bulan Desember 2025, BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Extreme

boniterbitjabar

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan bahwa bulan Desember 2025 akan menjadi periode puncak
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan bahwa bulan Desember 2025 akan menjadi periode puncak

TERBITJABAR.COM |​JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan bahwa bulan Desember 2025 akan menjadi periode puncak musim hujan bagi sebagian besar wilayah Indonesia, Pada Hari Kamis (4/12/2025).

Kondisi ini menuntut kesiapsiagaan tinggi dari masyarakat dan pemerintah daerah mengingat adanya potensi peningkatan kejadian cuaca ekstrem.

​Berdasarkan analisis BMKG, cuaca di bulan terakhir tahun 2025 ini akan didominasi oleh curah hujan tinggi hingga sangat tinggi, khususnya di wilayah barat dan tengah Nusantara.

​33% Zona Musim Alami Puncak Hujan
​Kepala BMKG menjelaskan bahwa sekitar 33,6% dari Zona Musim (ZOM) di Indonesia diprediksi mengalami puncak musim hujan pada periode akhir tahun ini (November-Desember).

Wilayah yang diwaspadai, termasuk sebagian besar Sumatera, Jawa bagian selatan (termasuk Banten Selatan, Jawa Barat Selatan, dan Jawa Tengah Selatan) Sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi.

“Meskipun sifat hujan diprediksi normal di banyak tempat, beberapa area berpotensi mengalami kondisi lebih basah (Atas Normal), yang dapat memicu risiko bencana hidrometeorologi,” ujar perwakilan BMKG dikutip dari laman resmi BMKG Nasional.

​Dipicu, oleh Aktivitas Gelombang Atmosfer serta adanya peningkatan intensitas hujan ini disebabkan oleh beberapa faktor utama seperti dinamika atmosfer, Monsun Asia Aktif, Angin Monsun Asia yang membawa massa udara basah ke wilayah Indonesia menyebabkan peningkatan signifikan dalam pembentukan awan hujan.

​Dinamika Gelombang, Adanya aktivitas gelombang atmosfer seperti Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuator yang bersinergi meningkatkan pembentukan awan konvektif (awan Cumulonimbus) dan memicu hujan ekstrem.

​Dampak Siklon Tropis Tidak Langsung, Bibit siklon yang mungkin terbentuk di sekitar perairan utara (seperti Laut Filipina atau Selat Malaka) juga memberikan dampak tidak langsung berupa peningkatan hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi di wilayah pesisir.

​Waspada Banjir dan Longsor, Dengan curah hujan yang mencapai kategori Tinggi hingga Sangat Tinggi, potensi ancaman bencana hidrometeorologi akan meningkat secara signifikan.

​Masyarakat diimbau waspada terhadap,
​Banjir dan Banjir Bandang: Terutama di dataran rendah, kawasan aliran sungai, dan wilayah yang memiliki riwayat genangan.

​Tanah Longsor, Khususnya di daerah perbukitan dan tebing curam, Gelombang Tinggi Berpotensi mengganggu aktivitas pelayaran di laut terbuka.

​BMKG mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk terus memantau informasi prakiraan cuaca terbaru dan mempersiapkan langkah mitigasi dini, termasuk pembersihan saluran air dan kesiapan jalur evakuasi**

Related Post

Tinggalkan komentar